Skip to main content

Bisnis kecil

21 Juli 2025

 

Camilan untuk masa depan: Mentor adalah bahan rahasia dalam resep ketahanan ini

Seorang pengusaha Indonesia menemukan pertumbuhan yang tak terduga ketika bimbingan lokal bertemu dengan dukungan digital, yang menunjukkan bagaimana kepercayaan dapat membuka perubahan bisnis yang nyata.

A woman in a headscarf stands in her kitchen over a stove.

Sophie Hares

Contributor

Setiap kali pengusaha Indonesia, Lilis, mengunjungi mertuanya, ia senang mengudap kerupuk simping renyah buatan sendiri, yang terbuat dari beras dan tepung tapioka dan dicampur dengan jahe aromatik. Ia merayu suaminya untuk mendapatkan resepnya agar bisa membuatnya di kampung halamannya di Jawa Barat.

Melalui proses trial and error, ia akhirnya menemukan formula yang tepat dan mulai menjual simping pada tahun 2002 di kios-kios di sekitar Bojong Barat, desanya di Purwakarta, sekitar 75 km sebelah tenggara Jakarta. Namun, sementara sekantong camilan gurih itu laris manis, penghasilannya tidak cukup untuk menghidupi keluarganya.

Jadi, seperti jutaan perempuan Indonesia lainnya, pada tahun 2010 ia bekerja di luar negeri, bekerja sebagai juru masak untuk menabung demi membangun rumah bagi keluarganya - dan menunda bisnisnya hingga kembali ke Indonesia enam tahun kemudian.

Kembali ke Bojong Barat, dia merasa lumpuh. Ia tahu bahwa ia perlu meminjam uang untuk berinvestasi dan mengembangkan bisnisnya, namun ia khawatir bahwa rumah yang telah ia bangun dengan susah payah akan terancam jika ia gagal membayar cicilan.

Titik balik terjadi tahun lalu ketika dia bertemu tetangganya, Fatimah, fasilitator untuk Mastercard Strive di Indonesia, yang bertujuan membantu 300.000 pengusaha memanfaatkan kekuatan ekonomi digital.

Banyak dari 66 juta usaha kecil yang tersebar di seluruh pulau-pulau di Indonesia berjuang untuk menemukan dukungan yang mereka butuhkan untuk memperkuat keterampilan digital dan keuangan mereka serta Access modal. Faktanya, 73% pemilik usaha kecil Indonesia tidak memanfaatkan pinjaman atau digital dan 63% dari mereka tidak mengakses layanan dukungan bisnis apa pun, menurut laporan 2025 yang diterbitkan oleh Mastercard Center for Inclusive Growth, yang meluncurkan program di negara Asia Tenggara pada tahun 2023.

Itulah sebabnya program Mastercard Strive Indonesia, yang mencakup Dewan Nasional Indonesia untuk Inklusi Keu angan dan Mercy Corps Indonesia, menghubungkan pengusaha pedesaan Jawa dengan mentor lokal seperti Fatimah yang berbicara langsung dengan mereka dan dengan cepat menilai tantangan mereka.

 

"Dampaknya lebih dari sekadar angka. Hal ini menciptakan peluang nyata bagi para peserta perempuan untuk membangun kepercayaan diri dan memperkuat pola pikir kewirausahaan mereka. Mereka memimpin, berinovasi, dan mengubah masyarakat."

Ani Winarti

 

"Usaha kecil yang mendapatkan pendampingan sejak dini cenderung memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang," ujar Ani Winarti, senior officer pelatihan dan pendampingan Mercy Corps yang berbasis di Jawa Timur. "Mereka sering kali mendapatkan pendapatan yang lebih baik dan lebih siap menghadapi tantangan."

Fatimah menawarkan untuk membantu Lilis membuka rekening bank atas namanya dan mengajukan pinjaman. Dia bisa melihat bahwa bisnis makanan ringan tetangganya memiliki potensi, tetapi dia tahu bahwa Lilis telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk merawat putrinya yang sakit dan dikecewakan oleh orang-orang yang sebelumnya berjanji untuk membantunya mendapatkan pinjaman.

Bertekad untuk mendapatkan kepercayaan Lilis, Fatimah mulai membantunya mengumpulkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk membuka rekening bank dan menunjukkan kepadanya cara meningkatkan penjualan dengan mengizinkan pelanggan membayar menggunakan kode QR, bukan hanya uang tunai.

"Saya ingin berbagi ilmu untuk belajar dan tumbuh bersama dengan para pengusaha perempuan untuk membantu mereka mencapai tujuan mereka dalam mengembangkan bisnis mereka dan tentu saja meningkatkan kemampuan pribadi mereka," kata Fatimah.

Awalnya skeptis, Lilis mulai belajar tentang tabungan, kredit, dan keamanan siber melalui platform pendampingan bisnis online Micromentor, yang diadaptasi dari platform yang dikembangkan oleh Mercy Corps. Hal ini kemudian memberinya kepercayaan diri untuk mengambil pinjaman sebesar 20 juta rupiah ($ 1.230) untuk memperbaiki dapurnya. 

Saat ini bisnisnya, yang mempekerjakan lima orang termasuk anak perempuan dan keponakannya, menerima pembayaran digital, dan Lilis bertekad untuk membuka toko yang menjual simping dan kue seiring dengan pertumbuhan bisnisnya.

"Sekarang saya bisa menabung dan mengelola uang saya dengan baik," katanya. "Selain itu, saya dapat menggunakan pinjaman tersebut untuk memperbaiki ruang produksi saya. Sekarang membuat simping lebih mudah, menghemat waktu dan meningkatkan kualitas."

 

Koneksi yang bermakna

Fasilitator Mercy Corps mengajarkan dasar-dasar pemasaran digital kepada kelompok kecil wirausaha, mulai dari mengambil foto produk hingga membuat toko online dan berjualan melalui saluran-saluran seperti WhatsApp. Ini menunjukkan kepada mereka bagaimana cara memperkenalkan pembayaran digital dan mengajukan permohonan kredit dan asuransi.

Memastikan pengusaha wanita seperti Lilis berada di pusat program ini sangat penting untuk membantu mereka Access keterampilan digital dan sumber daya yang mereka butuhkan untuk Become tangguh secara finansial, menciptakan lapangan kerja, dan mendukung keluarga.

"Dampaknya lebih dari sekadar angka. Hal ini menciptakan peluang nyata bagi para peserta perempuan untuk membangun kepercayaan diri dan memperkuat pola pikir kewirausahaan mereka," kata Winarti. "Mereka memimpin, berinovasi, dan mengubah masyarakat."

Ketika bisnis kecil menang, semua orang menang

Kami memberdayakan 50 juta usaha kecil dan seterusnya untuk berkembang dalam ekonomi digital. Bacalah beberapa kisah mereka. 

A grocery store worker holding a tablet checks stock.